Pemahaman waktu yang ditunjukkan ayat-ayat sistem waktu dalam Al Quran berdasarkan posisi-posisi (manaazil), bukan terlihat atau tidaknya hilal. Perubahan waktu ditandai dengan perubahan posisi Matahari dan posisi Bulan.
Dr Pranoto Hidaya Rusmin
Bandung, 21 Januari 2026
Pentingnya Sistem Waktu: Jam dan Kalender dalam Peradaban Manusia
Sistem waktu berupa jam dan kalender memainkan peranan yang sangat krusial dalam peradaban manusia, berfungsi sebagai alat pengatur waktu yang tidak hanya menyusun ritme kehidupan, tetapi juga membantu dalam pengorganisasian berbagai aktivitas. Dengan adanya sistem ini, manusia dapat merencanakan kegiatan mereka dengan lebih terstruktur, mulai dari proses pertanian, upacara keagamaan, hingga perencanaan sosial dan ekonomi. Kalender membantu peradaban kuno mencatat waktu, menandai perubahan musim, dan meramalkan fenomena alam, sehingga mendorong inovasi dalam pertanian dan pemukiman. Tanpa adanya kalender, banyak aspek penting dalam kehidupan, dari pertanian hingga kebudayaan, akan menjadi tidak teratur dan acak, yang dapat berdampak negatif terhadap perkembangan dan kelangsungan hidup masyarakat.

Secara astronomis, kalender adalah sistem pengorganisasian satuan waktu berupa hari, bulan, dan tahun, yang didasarkan pada pengamatan pergerakan benda-benda langit secara periodik terhadap Bumi.
Definisi ini mencakup tiga fenomena utama (3 siklus):
- Rotasi Bumi (Hari): Waktu yang dibutuhkan Bumi untuk berputar pada porosnya sendiri terhadap Matahari (hari Matahari).
- Revolusi Bulan (Bulan): Siklus fase Bulan saat mengorbit Bumi, yang dikenal sebagai bulan sinodik (sekitar 29,53 hari).
- Revolusi Bumi (Tahun): Waktu yang dibutuhkan Bumi untuk menyelesaikan satu orbit penuh mengelilingi Matahari, yang dikenal sebagai tahun tropis (sekitar 365,24 hari).
Video berikut ini bagus sebagai wawasan umum tentang waktu, siklus sebagai acuan jam dan kalender.
Dari 3 siklus ini terdapat 3 jenis kalender:
- Kalender Solar yaitu kalender Masehi yang sekarang digunakan secara global.
- kalender luni solar tanpa siklus revolusi bumi yaitu kalender Hijriah (Islam).
- Kalender luni solar lengkap contohnya Kalender Tionghoa dan Kalender Ibrani
Kalender Masehi dan kalender Hijriah sama-sama mengabaikan satu siklus sehingga kalendernya menjadi lebih sederhana. Kalender Masehi tidak menggunakan siklus sinodik Bulan. Sedangkan, kalender Hijriah mengabaikan siklus revolusi Bumi (sikus semu tahunan Matahari).
Meluruskan pemahaman struktur kalender Hijriah
Selama ini kalender Hijriah dipahami sebagai kalender murni menggunakan siklus Bulan. Padahal untuk tanda waktu harian tetap menggunakan Matahari, yaitu rotasi bumi yang mengakibatkan siklus semu harian Matahari atau siklus siang malam. Dapat diperhatikan waktu sholat menggunakan posisi Matahari. Begitu juga waktu untuk puasa Ramadhan, acuan bulanan menggunakan siklus bulan, sedangkan waktu harian menggunakan siklus semu harian Matahari ditunjukkan di Al Baqarah [2]:187.

Untuk itulah basis observasi dari pemahaman sistem waktu dalam Islam mengacu pada Luqman [31]: 29

Tidakkah engkau memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang, memasukkan siang ke dalam malam, dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar sampai pada waktu yang ditentukan? sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan
Terdapat sejumlah ayat Al Quran yang mengajak kita untuk merenungkan siklus siang malam, Matahari dan Bulan berikut ini.
Siang dan Malam
Secara astronomis, siang dan malam didefinisikan berdasarkan posisi matahari terhadap garis cakrawala (horison) pengamat di Bumi:
- Siang (Daylight): Periode di mana pusat piringan matahari berada di atas garis horison lokal. Secara teknis, ini dimulai tepat saat bagian atas matahari muncul di ufuk timur (terbit) dan berakhir saat seluruh piringan matahari menghilang di bawah ufuk barat (terbenam).

demi siang saat menampakkan-nya (Matahari) Asy Syams [91]:3
Malam (Night): Periode di mana matahari berada di bawah garis horison.

demi malam saat menutupi-nya (Matahari) Asy Syams [91]:4
Siang untuk Bekerja, Malam untuk tidur Istirahat
Al Quran tidak hanya menunjukkan siklus siang malam, lebih dari itu mendorong manusia untuk meneliti hubungan siang malam dengan aktivitas keseharian berupa bekerja dan tidur. Ini nanti terkait dengan mekanisme hormon seperti hormon melatonin, serotonin, dan lainnya. Selain itu juga terkait dengan irama tubuh yang disebut circadian rythm. Terkait ini akan dibahas pada tulisan lain, khususnya dengan rangkaian ayat-ayat puasa Ramadhan yang banyak mengandung pelajaran berharga bagi manusia.

Dialah yang menjadikan malam untukmu (sebagai) pakaian dan tidur untuk istirahat. Dia menjadikan siang untuk bangkit berusaha.
Terdapat sejumlah ayat Al Quran yang senada dengan ayat di atas, yaitu
Siklus Semu Harian Matahari: Dasar-Dasar Pengukuran Waktu Sehari-Hari
Siklus semu harian matahari merupakan fenomena yang terjadi akibat rotasi bumi sehingga terdapat pergerakan matahari di langit, yang terlihat sebagai perubahan posisi dari terbit hingga terbenam. Proses ini bukan hanya menjadi salah satu aspek kehidupan alami, tetapi juga merupakan dasar bagi pengukuran waktu sehari-hari. Ketika hari dimulai dengan terbitnya matahari, cahaya dan kehangatan sinar matahari memengaruhi aktivitas manusia. Sebaliknya, saat matahari tenggelam, tanda ini menunjukkan akhir dari aktivitas siang dan dimulainya malam.
Pengukuran waktu berdasarkan siklus semu harian matahari telah ada sejak zaman kuno. Banyak peradaban kuno seperti Mesir, Babylonia, dan Mesoamerika mengembangkan sistem kalender berdasarkan pergerakan matahari. Misalnya, bangsa Mesir kuno memanfaatkan bayangan obelisk yang digunakan sebagai alat pengukur waktu. Dengan mengamati bayangan yang dihasilkan, mereka dapat mengidentifikasi waktu dalam sehari. Fenomena ini menjadi komponen penting dalam peradaban mereka, memengaruhi rutinitas harian dan perencanaan aktivitas.
Pengukuran durasi sehari: siang dan malam, terungkap dalam Al Isra [17]: 12

Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami). Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang benderang agar kamu (dapat) mencari karunia dari Tuhanmu dan mengetahui bilangan tahun-tahun dan hisab/perhitungan (waktu). Segala sesuatu telah Kami terangkan secara terperinci.
Ayat ini mengungkap hisab/pengukuran durasi siang dan malam, yang sekarang menjadi durasi sehari 24 jam,yang menjadi bagian dari struktur kalender(bilangan tahun-tahun: 1,2,3…..1447 H ini merupakan representasi kalender). Akan dijelaskan lebih rinci pada tulisan tersendiri. Selain itu juga menjadi awal penetapan standar waktu 1 detik. Pada abad ke-19, lembaga-lembaga ilmiah berupaya mendefinisikan detik dalam istilah astronomi, dan pada tahun 1940-an sebuah kesepakatan internasional mendefinisikan detik sebagai 1⁄86.400 dari rerata hari matahari (sumber: https://www.popularmechanics.com/technology/a25785/quest-measure-second-nist/)

Siklus akan memiliki karakteristik berupa awal dan durasi atau rentang waktunya. Waktu harian yang terdiri dari siang dan malam terkait dengan posisi Matahari.

Siklus Sinodik Bulan: Penanda Waktu dengan Fase-Fase Bulan
Siklus sinodik bulan, yang diukur dari satu posisi bulan ke posisi bulan yang sama berikutnya, memiliki durasi rata-rata sekitar 29,53 hari. Dari siklus sinodik ini, berbagai peradaban telah mengembangkan sistem penanggalan yang mengandalkan fase bulan. Salah satu contohnya dapat dilihat dalam penanggalan Hijriyah yang digunakan di dunia Islam. Kalender Hijriyah didasarkan sepenuhnya pada fase bulan, di mana satu tahun terdiri dari 12 bulan lunar, dengan total hari berkisar antara 354 hingga 355 hari.

Mereka bertanya kepadamu tentang fase-fase bulan. Katakanlah, “ia Itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (ibadah) haji.” Bukanlah suatu kebajikan memasuki rumah dari belakangnya, tetapi kebajikan itu adalah (kebajikan) orang yang bertakwa. Masukilah rumah-rumah dari pintu-pintunya, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. Al Baqarah [2]: 189
Untuk tafsir selengkapnya dari Al Baqarah [2]:189 ini akan dijelaskan pada tulisan tersendiri. Agar jelas bahwa makna kata ahillah sebagai fase-fase bulan akan selaras dengan makna mawaqit yang mengungkap adanya banyak bentuk (makna sebagai miqot makani) dengan banyak makna waktu (miqot zamani). Kalau hanya satu bentuk fase bulan sabit muda, tidak memenuhi maksud mawaqit.
Al Baqarah [2]:189 ini akan parameter iluminasi yang terhubung dengan manaazil (posisi-posisi) bulan di Yasin [36]: 39 sebagai parameter elongasi dan akan menjadi parameter hisab berdasarkan posisi Matahari dan posisi Bulan di Yunus [10]: 5.


Siklus Semu Tahunan Matahari: Menghitung Waktu Musiman dan Pertanian
Pertumbuhan peradaban manusia sangat dipengaruhi oleh pemahaman mengenai siklus semu tahunan matahari. Suatu siklus yang memainkan peranan penting dalam menentukan waktu musiman dan menuntun kegiatan pertanian. Dalam setiap tahun, posisi matahari terhadap bumi memengaruhi panjang hari dan malam, serta perubahan suhu yang berdampak langsung pada pola cuaca. Variasi ini menjadi penentu bagi petani dalam merencanakan waktu tanam dan panen.
Siklus semu tahunan matahari ditandai oleh posisi matahari yang bergerak melalui zodiak, mengikuti lintasan yang disebut ekliptika. Dalam sejarah, berbagai peradaban telah mengembangkan kalender berdasarkan siklus semu tahunan ini. Kalender Julian yang diperkenalkan oleh Julius Caesar memiliki 365 hari dalam setahun, dengan satu tahun kabisat setiap empat tahun. Meskipun efektif, kalender ini tidak sepenuhnya akurat dalam menyesuaikan dengan tahun tropis. Kalender Gregorian, yang menggantikan kalender Julian pada tahun 1582, lebih presisi dan telah diadopsi secara luas saat ini. Kalender ini mencakup aturan yang ketat untuk menentukan tahun kabisat, memastikan bahwa momen-momen penting seperti equinox dan solstis tetap pada waktu yang diharapkan, membantu masyarakat dalam kegiatan pertanian dan perayaan penting.
Kalender Hijriah tidak menggunakan siklus semu tahunan Matahari ini, sehingga kalender Hijriah tidak sinkron dengan musim. Karakteristik seperti ini ditetapkan Allah dalam At Taubah [9]: 36.

Sesungguhnya bilangan bulan-bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.
Iklim dan musim sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia, namun demikian dalam hal ini kalender tidak harus sinkron dengan musim. Oleh karena itu, Iklim dan musim dapat dimodelkan secara matematis untuk suatu area tertentu dan digunakan untuk memprediksi kondisi di waktu yang akan datang sesuai kebutuhan pertanian, perikanan, dan sebagainya. Al Quran mengarahkan untuk melakukan observasi terkait iklim dan musim pada Al Baqarah [2]: 164 dan yang satu topik. Ini dapat menjadi topik penelitian tersendiri sebagai sistem komplemen dari sistem waktu.
Wallahu A’lam
Daftar Pustaka
- https://hai-ias.org/doc/AAI2018/AAI2018_Konstanta-Glosarium.pdf