Titik Kritis Pemahaman Hilal sebagai Tanda Awal Bulan dari Perspektif Saintifik

Untuk dapat menyelesaikan persoalan kalender Islam, perlu memeriksa kembali metodologi keilmuan Islam yaitu metode tafsir, metode penurunan hukum, dan metode ilmiah untuk menurunkan sains dari fenomena alamnya. Namun, lebih fundamental dari semua itu diperlukan sikap ilmiah pada setiap muslim agar budaya keilmuan Islam kembali muncul dan berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Pranoto Hidaya Rusmin


Sekedar Review Konsep

Metode ilmiah adalah serangkaian prosedur sistematis dan logis yang terstruktur untuk memecahkan masalah dan memperoleh pengetahuan baru yang valid, dengan landasan berpikir analitis, objektif, dan empiris melalui langkah-langkah seperti observasi, perumusan hipotesis, eksperimen, analisis data, dan penarikan kesimpulan yang dapat diuji ulang. Metode ilmiah tidak sekedar prosedur untuk menurunkan pengetahuan yang valid, lebih jauh dari itu memerlukan sikap ilmiah untuk melakukan prosesnya. Adapun sikap ilmiah yang utama yaitu

  1. Rasa Ingin Tahu (Curiosity): Selalu bertanya-tanya tentang berbagai hal di lingkungan sekitar dan memiliki dorongan kuat untuk mencari jawaban.
  2. Jujur: Melaporkan hasil pengamatan atau data apa adanya tanpa dimanipulasi sesuai dengan perasaan pribadi.
  3. Objektif: Menilai sesuatu berdasarkan fakta dan bukti empiris, bukan pada pandangan subjektif.
  4. Terbuka (Open-minded): Bersedia mendengarkan, menerima, atau mempertimbangkan pendapat dan argumentasi orang lain
  5. Skeptis: Tidak mudah percaya sebelum ada bukti atau data yang valid.
  6. Berpikir Kritis: Selalu mencari informasi, membandingkan kelebihan/kekurangan, dan tidak langsung menerima informasi tanpa bukti.
  7. Tekun dan Teliti: Bekerja keras, konsisten, dan berhati-hati dalam melakukan eksperimen.
  8. Berani dan Kreatif: Berani mencoba metode baru dan memiliki daya cipta dalam memecahkan masalah

Secara sederhana: Jujur itu tentang ketulusan hati (internal), sedangkan Objektif itu tentang ketepatan data (eksternal).

1. Jujur (Honesty)

Kejujuran bersifat subjektif. Seseorang dikatakan jujur jika apa yang ia katakan sesuai dengan apa yang ia yakini atau rasakan di dalam pikirannya.

  • Fokus: Integritas pribadi dan niat.
  • Sifat: Relatif terhadap pengetahuan seseorang.
  • Contoh: Anda melihat sebuah lukisan dan merasa lukisan itu buruk. Jika Anda mengatakan “Lukisan ini jelek,” Anda sedang bersikap jujur. Namun, pendapat itu belum tentu objektif karena hanya berdasarkan selera pribadi.

2. Objektif (Objectivity)

Objektivitas bersifat faktual. Seseorang dikatakan objektif jika ia menyampaikan sesuatu berdasarkan kenyataan yang bisa dibuktikan, tanpa dipengaruhi oleh perasaan atau kepentingan pribadi. 

  • Fokus: Data, bukti, dan fakta lapangan.
  • Sifat: Netral dan tidak memihak.
  • Contoh: Alih-alih mengatakan lukisan itu “jelek”, Anda mengatakan “Lukisan ini menggunakan perpaduan warna yang tidak kontras dan teknik sapuan kuas yang tidak merata.” Ini adalah penilaian objektif karena menggunakan kriteria yang bisa diukur.

Mengapa Keduanya Penting?

Seseorang bisa saja jujur tapi tidak objektif. Misalnya, seorang saksi mata yang jujur menceritakan apa yang dia lihat, tetapi karena sudut pandangnya terbatas, informasinya tidak objektif secara keseluruhan.

Sebaliknya, seseorang bisa memberikan data yang objektif tapi tidak jujur. Misalnya, seorang penjual menyajikan data teknis yang benar tentang produknya, namun sengaja menyembunyikan fakta negatif lainnya agar produknya laku.

Intinya: Jujur adalah tentang tidak berbohong, objektif adalah tentang melihat kebenaran yang utuh.

Google Mode AI


Pengajaran Tuhan melalui ayat-ayat Al Quran

Orang-orang yang selalu ingin mengetahui

Dapat diperhatikan pada Yunus [10]: 5 yang diakhiri dengan kalimat

Dia (Allah) selalu menjelaskan tanda-tanda-Nya kepada orang-orang yang selalu ingin mengetahui.

Qaumi ya’lamuun ini merepresentasikan orang-orang yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, terungkap dalam bentuk kata Fi’il Mudhari’ (الفعل المضارع). Kata ini mengungkap rasa ingin tahu terhadap ayat-ayat Allah dan fenomena alam ciptaan-Nya sebagai acuan kalender. Rasa ingin tahu yang akan selalu ada dan membuka pengetahuan-pengetahuan baru.


Orang-orang yang jujur

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur dan berintegritas (At Taubah [9]: 119)

Ash Shidiq yang mengandung kata Sincerity (ketulusan, kejujuran) dan integrity (terima kasih untuk Pak Muhammad Ferous atas penjelasan makna kata ini).

Integritas, berasal dari kata Latin integer yang berarti utuh atau lengkap. Ini mencerminkan keutuhan karakter seseorang. Integritas berarti apa yang diucapkan seseorang sesuai dengan apa yang ia lakukan dan yakini. Kombinasi objektif dan jujur membangun integritas, karena tindakan didasarkan pada prinsip yang benar, bukan sekadar opini.


Ada yang menarik pada kata yg digunakan Al Qur’an seperti

Ash shodiqiin
Qoumi ya’lamuun

Yang menyebut orang-orang dengan karakteristik tertentu.

Ash shodiqiin orang-orang yang jujur dan berintegritas

Qoumi Ya’lamuun orang-orang yang selalu ingin mengetahui

Tidak sekedar teori yang diucapkan di mulut atau hanya ada di pikiran dalam bentuk pengetahuan, tetapi kata-kata itu merepresentasikan orang-orang yang memang telah memiliki karakter itu.

Ash shodiqiin itu orang-orang yang setiap hari dalam perilaku nya memang bersikap jujur dan berintegritas

Qoumi ya’lamuun orang-orang yang setiap saat nya selalu ingin mengetahui, lantas belajar mencari pengetahuan, ketika sudah ketemu, muncul lagi rasa ingin tahu… Selalu haus akan pengetahuan.


Berpikir Kritis

Al Quran tidak hanya mengungkap terkait dorongan untuk berpikir seperti dalam ayat-ayat yang mengandung kalimat أَفَلَا تَعْقِلُونَ apakah kamu tidak berpikir? pada Al-Baqarah [2]: 44, 76, Ali ‘Imran [3]: 65, Al-An’am [6]: 32, Al-A’raf [7]: 169, Hud [11]: 51, Yusuf [12]: 109, Al-Anbiya [21]: 10, 67, Al-Mu’minun [23]: 80, Al-Qasas [28]: 60, As-Saffat [37]: 138.

Lebih jauh dari itu terdapat kelompok ayat yang mengungkap orang-orang yang berpikir secara mendalam sehingga mencapai inti dari sesuatu.


Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir secara mendalam sampai intinya (Ali ‘Imran [3]: 190)


Saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran

kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran (Al Ashr [103]: 3)

Mengajak berbuat baik dan mencegah perbuatan buruk

Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung ( Ali ‘Imran [3]: 104)

Ayat-ayat Al Quran lebih lengkap terdapat dalam lampiran. Insya Allah akan diungkap lebih mendalam pada tulisan tersendiri dan dihubungkan dengan spiritualitas Islam.


Perbedaan Para ilmuwan dalam persoalan Kalender Islam

Ilmuwan akan bekerja dengan sikap ilmiah dan metode ilmiah seperti dituliskan di atas. Saat ini perbedaan konsep kalender lokal dengan kalender global adalah pada fenomena alamnya, bukan pada prosedur penurunan sainsnya.

Fenomena alam yang menjadi acuan kalender lokal: Bulan Sabit Muda, Hilal

kalender lokal mengacu hanya pada satu fase bulan saja, yaitu fase bulan sabit muda yang terlihat(hilal) sebagai tanda awal bulan dalam kalender berdasarkan tafsir hadis, bukan diturunkan dari fenomena alamnya. Karena dipahami demikian, ilmuwan melakukan penelitian ilmiah berdasarkan bulan sabit muda yang terlihat dan tidak. Sifat keterlihatan ini direpresentasikan dengan beberapa parameter, yang saat ini mengerucut menjadi 2 parameter yaitu ketinggian hilal dan elongasi [8].


Prinsip penafsiran dengan pendekatan Bayani dan Burhani pada hadis Rukyah hilal

Pendekatan Bayani diturunkan dari AlBaqarah [2] :185 di mana Al Quran tidak hanya berisi petunjuk, melainkan juga penjelasan-penjelasan atas petunjuk itu, dan penjelasan-penjelasan sebagai Al Furqon. Sehingga cara memahami satu ayat dijelaskan dengan ayat lainnya atau dengan hadis shohih di mana Al Quran dan Hadis shohih merupakan bentuk salah satu jalan kembali kepada Allah dan Rasul, dalam An Nisa [4]: 59. Atau dalam hal ini memahami satu bagian dari hadis rukyah hilal dengan bagian lainnya,

Dengan prinsip bayani ini, fungsi hilal dipahami berdasarkan perkataan Nabi sendiri, yaitu sebulan itu 29 hari yang disebutkan di awal hadis dan genapkan jumlah hari nya menjadi 30 hari pada akhir hadis. Ketika prinsip bayani ini digunakan, pemahaman tidak akan keluar dari perkataan Nabi sendiri yang ada dalam hadis

Untuk prinsip Burhani, digunakan prinsip kebenaran pada an Nisa[4]: 82, di mana dalam satu kesatuan sistem pemahaman, tidak boleh ada kontradiksi, semua bagian kalau disatukan harus selaras.

Ketika bagian rukyah hilal dipahami sebagai penentuan awal bulan akan kontradiksi dengan bagian digenapkan menjadi 30 hari. Satu nya penentuan awal bulan, lainnya penentuan jumlah hari satu bulan kalender. Satunya Suprarasional-lokal, satunya lagi rasional-global. 2 pemahaman seperti ini tidak dapat disatukan lantas yang keluar untuk mewakili dua pemahaman itu adalah pemahaman yang suprarasional-lokal berupa penentuan awal bulan dengan hilal.

Kalau bagian yang mengandung 2 rukyah hilal dipahami sebagai penentuan jumlah hari satu bulan kalender, akan selaras dengan bagian digenapkan menjadi 30 hari. Keduanya merupakan cara penentuan jumlah hari satu bulan kalender, yang kadang 29 hari, kadang 30 hari. Ini sebuah keselarasan yang bukan kebetulan, karena juga dikonfirmasi dengan perkataan Nabi dalam hadis umat yang ummi yaitu satu bulan itu begini begini, yang maksudnya kadang 29 hari, kadang 30 hari. Dapat dibaca kembali pada Evolusi dan Struktur KHGT dan Keakuratan Perkataan Nabi pada Hadis Umat yang ummi dan Hadis Rukyah Hilal yang sangat cocok dengan Struktur KHGT.


Fenomena alam yang menjadi acuan kalender Global: Ahillah, Fase-Fase Bulan

Fenomena alam dalam gambar di atas ini yaitu fase-fase bulan dalam satu siklus sinodik bulan merupakan ahillah sebagai mawaqit yang diungkap dalam al Baqarah [2]: 189. Ahillah ini terkait dengan pertanyaan tentang perubahan bulan yang muncul tipis lalu membesar sampai purnama, lantas mengecil sampai hilang lau muncul kembali. Dikuatkan dengan bentuk kata ahillah dan mawaqit yang berupa kata jamak, yang berimplikasi terdapat banyak tanda waktu. Kalau ahillah dipahami sebagai satu fase saja, tidak selaras dengan maksud kata mawaqit. Penjelasan lengkap beserta berbagai tafsir akan disampaikan pada tulisan tersendiri.


Kaidah sebelum melakukan kajian saintifik dari tafsir ayat-ayat Al Quran

Terdapat banyak ayat Al Quran yang mengungkap fenomena alam, seperti Al Baqarah [2]:189 ini. Dipandang dari sisi keilmuan, tasfir dan sains itu merupakan dua keilmuan yang terpisah dan berdiri sendiri. Tafsir diturunkan dari Al Quran menggunakan metode tafsir. Sedangkan sains diturunkan dari fenomena alam menggunakan metode ilmiah. Dari tafsir tidak dapat langsung dilakukan kajian ilmiah tanpa ada proses yang menjadi jembatannya yaitu

Kaidah 1. dari tafsir yang ada, dipastikan fenomena alam dan karakteristik yang disebut oleh ayat.

kaidah 2. buktikan bahwa fenomena alam dan karakteristik yang disebutkan ayat itu eksis di alam dan terukur.

Pada pemahan ahillah sebagai fase-fase bulan, baik fase-fase bulan dengan makna waktunya (sebagai mawaqit) terdapat di alam dan terukur. Sehingga dapat dilanjutkan dengan kajian ilmiah.

Sedangkan ketika ahillah dipahami sebagai satu fase saja yaitu bulan sabit muda yang terlihat, fenomena alamnya eksis di alam sebagai bagian dari fase-fase bulan, namun makna waktunya sebagai tanda awal bulan tidak eksis di alam. Pemahaman seperti ini tidak dapat dilanjutkan dengan kajian ilmiah. Yang perlu dibuktikan eksistensinya tidak hanya fenomena alamnya, tetapi juga cirinya harus eksis dan terukur. Makna waktu bulan sabit muda sebagai tanda awal bulan tidak diturunkan dari fenomena alamnya, sehingga makna waktunya tidak ada di alam ini. itulah mengapa disebut suprarasional, karena munculnya dari tafsir agama yang perlu dicek kembali.


Kajian Saintifik atas Fase-fase Bulan

Rumus matematika dari iluminasi Bulan ini diambil dari buku Astronomical algorithms karya Jean Meeus, Chapter 48 Illuminated Fraction of the Moon’s Disk. Pengetahuan dasar astronomi yang tidak memerlukan kesepakatan lagi untuk menerimanya secara global.

Fraksi penyinaran (k) pada piringan Bulan bergantung pada elongasi selenosentrik Bumi dari Matahari, yang disebut sebagai sudut fase (i). Selenosentrik berarti ‘sebagaimana yang terlihat dari pusat Bulan’

formula ini adalah nilai dari rasio antara luas area cakram yang terang terhadap luas totalnya, sekaligus rasio antara panjang diameter yang teriluminasi yang tegak lurus dengan garis ujung sabit cusps terhadap diameter utuh (lihat Gambar). Sudut fase i dari Bulan, bagi pengamat geosentrik, dapat dicari dengan cara sebagai berikut. Pertama, elongasi geosentrik (ψ) antara Bulan dan Matahari.


Formula di atas kalau dibuat grafik akan seperti gambar iluminasi sebagai fungsi dari elongasi berikut ini.

Parameter iluminasi dan elongasi ini bersifat global, sama untuk seluruh bumi seperti telah disampaikan pada Ahillah (Fase-Fase) Bulan Ramadhan 1447 H


Penentuan Jumlah hari satu bulan kalender secara saintifik

Terdapat hubungan erat antara Al Baqarah [2]: 185 terkait penentuan waktu puasa Ramadhan, Al Baqarah [2]: 189 terkait dengan fase-fase bulan sebagai mawaqit, hadis ummat yang ummi, dan hadis rukyah hilal. Berikut ini hadis yang terkait dengan Al Baqarah [2]: 189 dengan hadis rukyah hilal.


جعل الله الأهلة مواقيت للناس، فصوموا لرؤيته، وأفطروا لرؤيته، فإن غم عليكم فعدوا ثلاثين يوما

Allah telah menjadikan fase-fase bulan sebagai tanda-tanda waktu bagi manusia. Maka berpuasalah kalian saat melihatnya (hilal), dan berbukalah (beridulfitri) saat melihatnya. Jika ia tertutup awan bagimu, maka genapkanlah (bilangan harinya) menjadi tiga puluh hari.

جعل الله الأهلة، فإذا رأيتم الهلال فصوموا، وإذا رأيتموه فأفطروا، فإن غمَّ عليكم، فأكملوا العدة ثلاثين

Allah telah menjadikan fase-fase bulan. Maka apabila kalian melihat hilal (bulan sabit muda yang terlihat mata), berpuasalah; dan apabila kalian melihatnya kembali, berbukalah (beridulfitri). Jika ia tertutup awan bagimu, maka sempurnakanlah hitungannya menjadi tiga puluh hari

Merujuk pada tulisan terkait penafsiran hadis rukyah berdasarkan perkataan Nabi sendiri dalam Keakuratan Perkataan Nabi pada Hadis Umat yang ummi dan Hadis Rukyah Hilal yang sangat cocok dengan Struktur KHGT

Penggunaan fase-fase bulan dengan parameter iluminasi dan elongasi yang bersifat global untuk penentuan jumlah hari satu bulan kalender yang bersifat global. Namun karena belum mampu menghisab seperti yang terungkap dalam ayat-ayat hisab kalender dalam Al Quran yang membutuhkan model matematika yang presisi terhadap siklus semu harian Matahari dan siklus sinodik Bulan, sehingga Nabi mengajarkan cara rukyah hilal.

Rukyah hilal memang dilakukan secara lokal di tempat tertentu saat maghrib, namun demikian sebenarnya fenomena alam dan tujuannya bersifat global, seperti ditunjukkan gambar di bawah ini.

Jumlah hari bulan ramadhan ditentukan dari posisi H di mana bulan sabit muda terlihat, lalu terjadi satu putaran siklus sinodik Bulan, sampai ke posisi H kembali saat bulan sabit muda terlihat kembali. Untuk mengetahui posisi bulan yang presisi diperlukan model matematika yang akurat, ini yang belum ada di jaman Nabi, sehingga yang dilakukan dengan acuan bulan sabit yang terlihat dengan mata telanjang. Jumlah hari bulan Ramadhan ditentukan berdasarkan durasi siklus sinodik bulan dari fase bulan sabit ke fase bulan sabit yang sama. Inilah pengajaran saintifik dari Nabi. Bukan ketetapan suprarasional berupa hilal sebagai tanda awal bulan.

Secara saintifik, pengajaran Nabi dalam hadis umat yang ummi dan hadis rukyah hilal adalah

Jumlah hari satu bulan kalender, yang kadang 29 hari kadang 30 hari,
ditentukan berdasarkan durasi siklus sinodik Bulan.

Sebuah prinsip penentuan unit bulan dalam kalender, yang terdapat dalam struktur KHGT. Itu bukan kebetulan, melainkan memang yang perlu ditentukan pada unit bulan dalam kalender adalah jumlah hari nya, yang bersifat global.

Wallahu A’lam

  1. Google mode AI
  2. https://www.aje.com/arc/what-is-the-scientific-method
  3. https://study.com/learn/lesson/scientific-method-example-steps.html
  4. https://uedufy.com/the-scientific-method-definition-steps-role-in-research/
  5. https://www.sciencebuddies.org/science-fair-projects/science-fair/steps-of-the-scientific-method
  6. https://www.britannica.com/science/scientific-method
  7. https://direct.mit.edu/books/book/4317/The-Scientific-AttitudeDefending-Science-from
  8. Muhamad Syazwan Faid et al, Assessment and review of modern lunar crescent visibility criterion, Icarus Volume 412, April 2024, 115970, Elsevier.

Lampiran