Disclaimer: tulisan ini dibantu AI sebagai alat bantu untuk membuat ilustrasi (Copilot) dan keterangan/definisi terkait topik (Google AI Mode). Namun alur pikir dan maksud tulisan dari penulis sendiri.
Dr. Pranoto Hidaya Rusmin
Bandung, 15 Januari 2026

Sangat sulit meluruskan sebuah pemahaman keliru yang sudah terlanjur dipegang oleh masyarakat luas selama bertahun-tahun. Apalagi pemahaman itu sudah menjadi keyakinan yang dilakukan selama lebih dari seribu tahun. Dalam perjalanan seperti itu argument ad hominem (serangan ke personal atau yang dibawanya) pasti sering diterima. Seperti apa pelajaran terkait ad Hominem ini di AlQuran?
Argumentum ad hominem
(bahasa Latin: “terhadap orangnya”) adalah kekeliruan berpikir (logis fallacy) yang terjadi ketika seseorang menyerang karakter, latar belakang, atau sifat pribadi lawan bicara, alih-alih membantah isi argumen yang sedang dibahas.
Berikut adalah poin-poin utama untuk memahaminya:
- Cara Kerja: Seseorang mencoba memenangkan debat dengan cara menjatuhkan kredibilitas lawan agar audiens tidak lagi memercayai apa pun yang dikatakan orang tersebut.
- Ketidakrelevanannya: Dalam logika, kebenaran sebuah pernyataan tidak bergantung pada siapa yang mengucapkannya. Sebuah fakta tetaplah fakta, meskipun diucapkan oleh orang yang memiliki reputasi buruk.
Contoh Sederhana
- Argumen A: “Merokok itu berbahaya bagi kesehatan karena penelitian menunjukkan risiko kanker paru-paru meningkat.”
- Respon Ad Hominem: “Kamu tidak usah menasihati saya, kamu sendiri saja masih sering merokok!”
Penjelasan: Fakta bahwa pembicara A merokok tidak mengubah kebenaran ilmiah bahwa merokok berbahaya bagi kesehatan.
Jenis-Jenis Ad Hominem
- Abusive (Pelecehan): Menyerang secara langsung dengan kata-kata kasar atau ejekan fisik (contoh: “Dia bodoh, jangan dengarkan dia”).
- Circumstantial (Keadaan): Menyerang berdasarkan latar belakang atau kepentingan tertentu (contoh: “Tentu saja dia mendukung kenaikan harga BBM, dia kan pengusaha minyak”).
- Tu Quoque (Kamu juga): Menyerang kemunafikan lawan bicara untuk menghindari menjawab argumen (seperti contoh merokok di atas).
Kapan Bukan Ad Hominem? Jika karakter seseorang memang relevan dengan topik yang dibahas, maka itu bukan ad hominem. Misalnya, dalam sidang pengadilan, mempertanyakan kejujuran saksi mata yang pernah dihukum karena memberikan keterangan palsu adalah langkah yang sah secara hukum dan logika
Argumentum ad verecundiam
adalah sesat pikir (logical fallacy) yang terjadi ketika seseorang mengklaim bahwa suatu pernyataan benar hanya karena pernyataan tersebut disampaikan oleh seorang ahli atau figur otoritas, tanpa adanya bukti pendukung yang relevan.
Dalam bahasa Latin, istilah ini berarti “argumen demi rasa hormat.” Sesat pikir ini sering disebut sebagai Appeal to Authority.
Berikut adalah karakteristik dan poin pentingnya:
- Kapan menjadi sesat pikir? Hal ini terjadi jika otoritas yang dikutip tidak memiliki keahlian di bidang yang sedang dibahas. Contohnya, mengutip pendapat seorang aktor terkenal tentang efektivitas suatu prosedur medis medis.
- Kapan dianggap valid? Mengutip pendapat ahli dianggap sah dalam diskusi jika ahli tersebut memang memiliki kompetensi di bidang terkait dan terdapat konsensus di antara para ahli lainnya mengenai hal tersebut.
- Tujuan penggunaan: Biasanya digunakan untuk menghentikan perdebatan dengan cara membawa nama besar seseorang agar lawan bicara merasa sungkan atau tidak berani membantah.
Contoh Sederhana:
“Teori ekonomi ini pasti benar karena pemenang Piala Oscar tahun lalu mengatakannya dalam sebuah wawancara.” (Ini adalah sesat pikir karena prestasi di bidang film tidak menjadikannya ahli dalam bidang ekonomi).
Poisoning the Well
(meracuni sumur) adalah variasi dari sesat pikir ad hominem yang dilakukan secara preemtif atau sebagai serangan pembuka. Tujuan utamanya adalah mendiskreditkan lawan bicara atau karyanya sebelum mereka sempat menyampaikan argumen atau sebelum penonton sempat membacanya, sehingga apa pun yang disampaikan nantinya akan dianggap cacat atau tidak bernilai.
Berikut adalah rincian mendalam mengenai mekanisme dan dampaknya:
1. Filosofi Istilah
Istilah ini berasal dari taktik perang kuno di mana tentara meracuni sumber air (sumur) musuh untuk melumpuhkan mereka sebelum pertempuran dimulai. Dalam logika, “sumur” adalah sumber informasi (orang/karya), dan “racun” adalah informasi negatif yang tidak relevan yang disebarkan untuk mencemari kredibilitas sumber tersebut.
2. Cara Kerja (Mekanisme)
Sesat pikir ini bekerja dalam tiga tahap:
- Informasi Negatif: Penyerang menyebarkan informasi buruk (benar atau fitnah) tentang subjek.
- Efek Psikologis: Penonton/pembaca menjadi bias dan skeptis terhadap subjek tersebut.
- Penolakan Otomatis: Ketika subjek menyampaikan argumen atau karyanya, penonton langsung menolaknya tanpa mempertimbangkan isinya karena pikiran mereka sudah “teracuni”.
3. Contoh dalam Konteks Karya Ilmiah
- Serangan Sebelum Seminar: “Sebelum Dr. Andi mempresentasikan hasil risetnya, perlu kalian ketahui bahwa dia pernah dipecat dari universitas sebelumnya karena masalah etika.” (Meskipun masalah etika masa lalu mungkin tidak berhubungan dengan validitas data riset saat ini, audiens akan cenderung meremehkannya).
- Melabeli Kelompok: “Hanya ilmuwan yang dibayar oleh industri minyak yang akan membantah teori perubahan iklim ini.” (Pernyataan ini mengunci lawan bicara; jika ada yang membantah, mereka otomatis dicap sebagai “ilmuwan bayaran”).
4. Perbedaan dengan Ad Hominem Biasa
- Ad Hominem: Biasanya menyerang setelah argumen disampaikan.
- Poisoning the Well: Menyerang sebelum argumen disampaikan untuk memastikan argumen tersebut tidak akan pernah didengarkan dengan adil.
5. Mengapa Ini Berbahaya?
Sesat pikir ini mematikan diskusi yang sehat karena ia menciptakan prasangka. Ia tidak menyerang data atau metodologi, melainkan merusak reputasi sedemikian rupa sehingga orang lain merasa “tabu” atau enggan setuju dengan karya tersebut karena tidak ingin diasosiasikan dengan hal negatif yang sudah dilekatkan sebelumnya.
Dampak dari Budaya Ad Hominem
Penggunaan ad hominem yang menjadi budaya memiliki dampak merusak yang luas, mulai dari level diskusi mikro hingga struktur sosial makro. Berikut adalah rincian dampaknya berdasarkan data terbaru tahun 2024-2026:
1. Dampak Terhadap Kualitas Diskusi
- Erosi Debat Rasional: Fokus diskusi bergeser dari substansi argumen ke serangan pribadi, yang menghentikan proses pencarian solusi atau kebenaran ilmiah.
- Terbentuknya Ruang Gema (Echo Chambers): Partisipan cenderung hanya mendengarkan kelompoknya sendiri dan langsung menolak pandangan luar dengan cara merendahkan karakter pembawanya.
- Stagnasi Ide: Diskusi yang sehat sulit dicapai karena setiap keberatan tidak lagi dijawab dengan data, melainkan dengan tuduhan atau asumsi motif personal.
2. Dampak Terhadap Pribadi yang Diserang
- Kesehatan Mental: Korban dapat mengalami gangguan kecemasan, depresi, hingga trauma psikologis (PTSD) akibat serangan yang bersifat masif dan berulang, terutama di media sosial.
- Pembunuhan Karakter: Serangan ini merusak reputasi sosial dan kredibilitas profesional korban, yang seringkali sulit dipulihkan meskipun argumen aslinya benar.
- Pembungkaman (Silencing Effect): Korban cenderung menarik diri dari ruang publik atau takut menyampaikan ide kritis karena enggan menghadapi serangan personal yang tidak relevan.
3. Dampak Terhadap Masyarakat (Jika Menjadi Budaya)
- Polarisasi Sosial yang Ekstrem: Serangan terhadap individu seringkali meluas menjadi serangan terhadap kelompok (SARA atau politik), yang memperdalam pembelahan di masyarakat.
- Normalisasi Ujaran Kebencian: Jika ad hominem dianggap lumrah, batas antara kritik sehat dan ujaran kebencian menjadi kabur, yang memicu tindakan anarkis atau konflik sosial.
- Ketidakpercayaan Publik: Masyarakat menjadi sinis terhadap tokoh publik atau institusi ilmiah karena penilaian tidak lagi didasarkan pada kompetensi, melainkan pada keberhasilan pembunuhan karakter dalam narasi publik.
- Ancaman Demokrasi: Dalam politik, budaya ini membuat pemilih mengambil keputusan berdasarkan emosi dan bias pribadi terhadap kandidat, bukan pada evaluasi program kerja atau kebijakan
Budaya buruk ketika merespon keyakinan yang berbeda
Ketika Nabi diutus membawa Al Quran dengan ajaran tauhid kepada masyarakat sekitarnya, mereka dalam kondisi menyembah berhala. Tentu ini akan menimbulkan benturan keyakinan yang sangat keras. Masyarakat merespon dengan cara-cara seperti ini.
Budaya mengolok-olok
Al-Hijr [15]: 11

Dan tidak datang seorang rasulpun kepada mereka, melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.
Ayat-ayat yang senada terdapat pada Al-Baqarah [2]: 14, An-Nisa’ [4]: 140, Al-An’am [6]: 5, Al-An’am [6]: 10, Al-An’am [6]: 68, At-Taubah [9]: 65, Hud [11]: 8, Ar-Ra’d [13]: 32, Al-Hijr [15]: 11, Al-Hijr [15]: 95, An-Nahl [16]: 34, Al-Kahf [18]: 56, Al-Kahf [18]: 106, Al-Anbiya [21]: 36, Al-Anbiya [21]: 41, Asy-Syu’ara’ [26]: 6, Ar-Rum [30]: 10, Luqman [31]: 6, Ya Sin [36]: 30, Sad [38]: 63, Sad [38]: 63, Az-Zumar [39]: 48, Az-Zumar [39]: 56, Al-Mu’min [40]: 83, Az-Zukhruf [43]: 7, Al-Jasiyah [45]: 9, Al-Jasiyah [45]: 33, Al-Jasiyah [45]: 35, Al-Ahqaf [46]: 26.
Dari banyaknya ayat Al Quran terkait topik ini dapat disadari bahwa ini merupakan hal yang sangat penting. Tidak hanya terkait dengan bagaimana masyarakat merespon ajaran Islam, tetapi juga bagaimana hidup berdampingan antar agama dan keyakinan yang berbeda, termasuk bagaimana mengatasi persoalan kalender Islam yang menjadi representasi perbedaan keyakinan dalam komunitas umat Islam sendiri.
Serangan ke Pribadi
Kalau diperhatikan pada ayat-ayat berikut ini, tidak sekedar olok-olokan namun sudah menyerang ke pribadi Nabi. Respon seperti ini termasuk ad hominem, satu bentuk kekeliruan pikir karena tidak fokus pada substansi ketika mengkritisi suatu ajaran malah menyerang pribadi Nabi.
Az-Zariyat [51]: 52

Demikianlah tidak seorang rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: “Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila”.
Serangan ke Al Quran
Al-Muddassir [74]: 24

lalu dia berkata: “(Al Quran) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu),
Serangan ke personal dan Al Quran dapat ditemukan pada ayat-ayat ini: Al-An’am [6]: 7, Al-A’raf [7]: 109, Yunus [10]: 2, 76, Hud [11]: 7, 54, Ta Ha [20]: 63, Al-Anbiya [21]: 3,5, Asy-Syu’ara’ [26]: 34, An-Naml [27]: 13, Al-Qasas [28]: 36,48, Saba’ [34]: 43, 46, As-Saffat [37]: 15, 36, Sad [38]: 4, Al-Mu’min [40]: 24, Az-Zukhruf [43]: 30, Al-Ahqaf [46]: 7, Az-Zariyat [51]: 39, 52, At-Tur [52]: 30, Al-Qamar [54]: 2, 9, As-Saff [61]: 6, Al-Haqqah [69]: 41, Al-Muddassir [74]: 24.
Tantangan dari Al Qur’an
Alih-alih menggunakan logika keliru, Alqur’an menunjukkan jalan elegan untuk membuktikan kalau meyakini Al Qur’an buatan Nabi, atau seseorang menduga Al Quran itu bukan dari sisi Allah. Al Quran menantang para penolaknya agar menggunakan akal pikiran untuk mengkritisinya seperti terungkap dalam ayat-ayat berikut ini terkait dengan ayat Al Quran yang menunjukkan bahwa Al Quran ini datangnya dari sisi Allah yaitu di Yunus [10]: 37, 38, Hud [11]: 13, 14, At-Tur [52]: 33, 34, An-Nisa’ [4]: 82, Fussilat [41]: 52, 53.
Buatlah yang sama atau serupa dengan AlQur’an ini
Hud [11]: 13

Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu”, Katakanlah: “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”.
Yunus [10]: 38

Atau (patutkah) mereka mengatakan “Muhammad membuat-buatnya”. Katakanlah: “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar”.
Mempelajari Al Qur’an secara objektif dan menemukan kontradiksi di dalamnya
An-Nisa’ [4]: 82

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.
Satu saja ada kontradiksi dalam Al Quran, sudah cukup menjadi bukti bahwa Al Quran bukan dari sisi Allah. Namun lakukan pembuktian dengan kejujuran dan sikap ilmiah.
Menemukan kontradiksi antara Al Quran dengan Realitasnya
- Fussilat [41]: 53

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?
Ayat ini mengaitkan diperlihatkannya tanda-tanda kekuasaan Allah di segenap penjuru dimensi penciptaan dan pada diri manusia sendiri. ketika penemuan itu ternyata telah disebutkan oleh Al Quran terlebih dahulu, tentu itu membuktikan kebenaran Al Quran sekaligus membuktikan bahwa AlQuran sesuai dengan penemuan ilmiah.
Konteks untuk kehidupan antar umat beragama
Terdapat beberapa pelajaran berharga dari ayat-ayat Al Quran di atas
- Kita hidup dalam perbedaan keyakinan yang perlu dihargai.
- Tidak perlu merespon perbedaan keyakinan dengan olok-olok, menyerang-merendahkan pribadi, menyerang-merendahkan apa yang dibawa.
- Kalau memang ingin melakukan kritikan dapat dilakukan dengan kajian ilmiah seperti membuat surah-surah seperti dalam Al Quran, menemukan kontradiksi dalam Al Quran, dan dapat pula membuktikan kontradiksi Al Quran dengan realitasnya.
Dalam hal ini Al Quran tidak menutup kesempatan kalau seseorang ingin membuktikan apakah benar Al Quran itu dari sisi Allah atau tidak, asalkan dilakukan dengan sikap ilmiah.
Konteks untuk perbedaan keyakinan terkait persoalan kalender Islam
Saat ini umat Islam terpolarisasi menjadi 2 kelompok besar terkait konsep kalender yaitu pengamal kalender lokal-regional dan pengamal kalender global. Ini kalau ditelusuri akan diperoleh sebab-sebab utamanya pada perbedaan tafsir Al Quran dan Hadis, yang mengarah pada ketidakakuratan tafsir. Kondisi seperti ini bukan hal mudah karena akan menggoyahkan keyakinan yang telah diamalkan selama ini. Kita akan selesaikan dengan diskusi keilmuan yang terbuka dan sikap ilmiah, bukan dengan olok-olok atau menyerang-merendahkan pribadi, juga tidak dengan merendahkan usulan yang disampaikan.
Dalam hal ini umat Islam perlu menggali kembali metodologi keilmuan tafsir beserta keilmuan terkait lainnya dan melakukan koreksi yang diperlukan. Tulisan lebih lanjut akan di bahas pada metodologi tafsir.
Bacaan terkait