Keakuratan Perkataan Nabi pada Hadis Umat yang ummi dan Hadis Rukyah Hilal yang sangat cocok dengan Struktur KHGT

Penentuan awal bulan kalender seolah sama dengan penentuan jumlah hari satu bulan kalender, padahal sangat berbeda. Awal bulan kalender akan bersifat lokal, yang dimulai secara global dari GTI, lalu berubah secara sekuensial ke arah barat, secara lokal di zona waktu yang ada di Bumi. Sedangkan jumlah hari satu bulan kalender hanya memiliki satu nilai untuk masing-masing bulan dalam kalender, yang berlaku global untuk seluruh zoba waktu di bumi. Perbedaan sangat jelas ini hanya dapat diketahui melalui struktur Kalender global, KHGT.

Pranoto Hidaya Rusmin


Awal dan Durasi: Siklus Semu Harian Matahari dan Sehari dalam Kalender

Sistem waktu itu terdiri jadi jam dan kalender.

Jam dapat dirinci menjadi jam: menit: detik. Sedangkan, kalender terdiri dari hari, pekan, bulan, dan tahun.

Pada gambar 1 di bawah ini, terdapat siklus siang malam atau siklus semu harian matahari, yang disebabkan oleh rotasi bumi. Saat ini di antara umat Islam ada yang meyakini awal hari dimulai dari saat matahari terbenam atau maghrib. Selain itu, ada juga yang meyakini hari dimulai dari terbitnya fajar, selaras dengan dimulainya puasa Ramadhan, yang terungkap di Al Baqarah [2]: 187. Namun demikian, perlu disadari bahwa KHGT menggunakan acuan perhitungan jam 24.00 GMT.

Solusi dari perbedaan pemahaman awal siklus hari, probabilitas besar akan menjadi akhir dari perbedaan pendapat terkait sistem waktu yang terjadi di antara umat Islam. Sementara itu, untuk kemudahan penjelasan, penulis menggunakan awal hari saat terbitnya Matahari, yang aproksimasinya terjadi di jam 06:00 pagi seperti di Gambar 1 di bawah ini.

Siklus siang dan malam akan terjadi seiring perubahan posisi Matahari atau disebut siklus semu harian Matahari. Untuk durasi satu hari secara global telah diterima semua orang yaitu 24 jam. Antara tanda alam dan representasi waktu berupa jam, terdapat kesesuaian karena diturunkan dari rerata hari Matahari. Tetapi kalau diperhatikan secara cermat sebenarnya terdapat perbedaan antara waktu sebenarnya yang ditunjukkan oleh Matahari dengan jam dinding yang ada di rumah kita. Perbedaan ini yang dikenal dengan istilah the equation of time, yang dapat dibaca lebih rinci pada acuan di bawah.

  1. https://www.timeanddate.com/astronomy/equation-of-time.html

Waktu Lokal dan Global

Waktu lokal dan waktu global merupakan dua konsep dasar penentuan jam yang digunakan untuk menyelaraskan aktivitas manusia di berbagai belahan bumi. 

Waktu Lokal (Local Time): Merupakan waktu yang berlaku secara spesifik di suatu wilayah atau zona waktu tertentu. Waktu ini ditentukan berdasarkan posisi geografis suatu tempat terhadap matahari atau kebijakan pemerintah setempat. Contohnya, Indonesia memiliki tiga waktu lokal: WIB (UTC+7), WITA (UTC+8), dan WIT (UTC+9).

Waktu Global (Global/Universal Time): Merupakan standar referensi waktu tunggal yang digunakan di seluruh dunia agar komunikasi dan koordinasi internasional tetap sinkron. Standar utama yang digunakan saat ini adalah UTC (Coordinated Universal Time) dengan acuan 0° longitude. Waktu global tidak berubah berdasarkan lokasi atau musim, sehingga menjadi patokan tetap bagi semua zona waktu lainnya.

Perbedaan Utama:

Tolok Ukur: Waktu lokal dihitung dengan menilai deviasi (offset) dalam kaitannya dengan waktu global.

Penggunaan: Waktu lokal digunakan untuk kegiatan sehari-hari di wilayah tersebut (seperti jadwal pekerjaan atau pendidikan), sedangkan waktu global digunakan untuk jadwal penerbangan, transaksi perbankan internasional, dan sinkronisasi data komputer.

  1. https://www.timeanddate.com/time/aboututc.html
  2. https://www.worldtimeserver.com/learn/what-is-local-time-everything-you-need-to-know/current_time_in_TV/current_time_in_PT/

Awal dan Durasi: Siklus Sinodik Bulan dan Satu Bulan Kalender

Secara prinsip durasi siklus sinodik bulan dapat dihitung dari satu posisi tertentu sampai posisi yang sama setelah satu siklus sinodik bulan [1]. Namun demikian, kalau memperhatikan data iluminasi fase-fase bulan, siklus akan dimulai saat iluminasinya minimum, yaitu pada posisi konjungsi seperti ditunjukkan pada Gambar 2 (c), dengan fase-fase bulan pada gambar 2 (b), dan posisi konjungsi ditunjukkan gambar 2(a) di bawah ini.

Dengan awal di posisi konjungsi (atau ijtimak) atau fase new moon, durasinya dapat dihitung dari posisi konjungsi ke posisi konjungsi berikutnya.

A lunation, or lunar month, is the time it takes the Moon to pass through all of the Moon phases, measured from one new moon to the next New Moon. The astronomical term for a lunation is a synodic month, from the Greek term synodos, meaning meeting or conjunction. The synodic revolution of the Moon begins each time at new moon, when the Sun and Earth are aligned on opposite sides of the Moon, and stops at the next new moon. It lasts about 29.5 days. The exact length varies slightly, due to the elliptical shape of the Moon’s orbit [2,3]

  1. https://www.britannica.com/science/synodic-period
  2. https://robinfo.oma.be/en/astro-info/moon/lunation/
  3. https://library.keplercollege.org/synodic-cycles-and-their-developing-phases/

Struktur dasar KHGT

Kata عَدَدَ السِّنِيْنَ bilangan tahun-tahun pada Al Isra [17]: 12 dan Yunus [10]: 5 merupakan representasi angka tahun-tahun dari 1, 2, 3… sampai saat ini 1447 H. Kemudian, kata عِدَّةَ الشُّهُوْرِ bilangan bulan-bulan pada At Taubah [9]: 36 menjadi bilangan bulan-bulan dari 1-12. Sedangkan, bilangan hari-hari merupakan representasi dari kalimat وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya pada AlBaqarah [2]: 185 yang dirinci dengan hadis umat yang ummi dan hadis rukyah hilal untuk menentukan kadar hari dalam satu bulannya, sesuai durasi siklus sinodik bulan. Sehingga terbentuk struktur kalender seperti di bawah ini. Dengan catatan jumlah hari satu bulan hanya sebagai ilustrasi saja.

Kedua fenomena alam sebagai acuan kalender, yaitu siklus semu harian Matahari dan siklus sinodik Bulan merupakan siklus yang independen,tidak terikat satu dengan yang lain. Berbeda dengan hubungan antara hari, bulan, dan tahun pada kalender, yang terkait dari yang terkecil. Akumulasi jam sampai 24 jam akan menjadi pemicu masuk ke hari baru, akumulasi jumlah hari sampai 29 atau 30 hari akan memicu masuk bulan baru, begitu juga ketika sudah sampai ujung bulan ke 12 akan memicu masuk tahun baru. Keteraturan seperti ini dapat menjadi verifikator bahwa masuknya bulan baru tidak mungkin terpicu oleh terlihatnya hilal. Akan kehilangan keteraturan pada sistem internal pemicu perubahan antar unit dalam kalender.

Perlu diperhatikan fakta di seluruh zona waktu dari paling timur sampai paling barat. Ketika jumlah hari telah terpenuhi, dari GTI akan terjadi pertama kali perubahan bulan baru, yang disusul secara sekuensial terjadi perubahan bulan baru, satu per satu pada zona waktu dari ujung timur ke arah barat sesuai dengan perubahan posisi Matahari atau pergerakan Matahari ke arah barat. Itulah mengapa awal bulan dalam kalender akan bersifat lokal karena terjadi pada zona waktu masing-masing, tidak serentak di bumi. Walaupun pada siklus sinodik bulan, konjungsi geosentris bersifat global. Tetapi, perubahan bulan dalam kalender terpengaruh oleh perubahan siklus hari, yang bersifat lokal. Sehingga bulan baru pada setiap zona waktu akan terjadi pada waktu yang sama secara lokal, tetapi pada waktu yang berbeda dari perspektif waktu globalnya.

Berbeda dengan jumlah hari satu bulan kalender, yang dihitung dari konjungsi ke konjungsi geosentrisnya. Sehingga memunculkan angka berupa jumlah hari satu bulan kalender, yang bersifat global, sama untuk semua zona waktu di bumi.


Keakuratan perkataan Nabi pada perhitungan unit bulan KHGT

Kalau setiap orang memahami hadis rukyah hilal dari penggalan kalimat ini:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ

Berpuasalah kalian karena melihatnya ( dhomir ‘”hi” ini merepresentasikan hilal, yang pada konteks ini dipahami bulan sabit muda yang terlihat oleh mata)

Probabilitas besar akan memahami bahwa puasa Ramadhan memang dilakukan “karena melihat hilal” , atau kalau dipahami dari tata bahasa akan dipahami “berpuasalah kalian setelah melihat hilal dengan menggunakan mata kepala” [2]. Iya dikuatkan dengan perkataan Nabi dalam hadis umat yang ummi, ini memang cara dengan rukyah hilal, melihat hilal langsung dengan mata kepala.

Pemahaman ini akan lebih menguat ketika memahami dari redaksi hadis dalam bentuk larangan berikut ini.

Janganlah kalian berpuasa sampai melihat hilal dan jangan sampai kalian berbuka (maksudnya mengakhiri puasa Ramadhan) sampai melihatnya kembali.

Memahami dari dua redaksi dalam bentuk perintah dan larangan di atas akan menguatkan pemahaman kita bahwa puasa Ramadhan harus dilakukan dengan rukyah hilal.


Menguatkan yang benar

Kami menguatkan pemahaman yang benar di atas bahwa cara yang dilakukan di atas dengan melihat hilal menggunakan mata telanjang. Hal ini dikuatkan dengan perkataan Nabi pada hadis umat yang ummi, laa nahsub: (kami) belum menghisab. Begitu pula pada bagian penutup hadis, seringkali ada yang memahami perintah faqduruu lahu sebagai perintah hisablah hilalnya. Kami menguatkan pemahaman bahwa dalam hadis rukyah hilal tidak ada perintah hisab sama sekali. Ketika pandangan terhalang, Nabi memerintahkan agar jumlah hari bulan Ramadhan digenapkan menjadi 30 hari, bukan di hisab hilalnya.

Pertanyaan yang akan menjadi pembeda

apakah dalam hadis rukyah hilal ini Nabi mengajarkan penentuan awal bulan menggunakan rukyah hilal ataukah penentuan jumlah hari bulan Ramadhan dengan dua kali rukyah hilal?

Memahami hadis dengan pijakan perkataan Nabi sendiri

Kalau kita perhatikan redaksi hadis rukyah hilal ternyata banyak sekali. Pembaca dapat melihat pada Daftar Pustaka. Menemukan kenyataan bahwa ternyata banyak variasi redaksinya, kami perlu melakukan analisis dan melihat kemungkinan adanya pola dalam beragam variasi redaksi tersebut. Pola seperti ini yang kami temukan:

Variasi bagian awal hadis


Variasi bagian tengah hadis


Variasi bagian akhir hadis


Struktur Dasar Hadits Rukyah Hilal

Dari pola tersebut dapat disimpulkan pola umumnya sebagai berikut.


Memahami fungsi hilal berdasarkan perkataan Nabi sendiri

Perkataan Nabi di bagian awal dan akhir hadis dengan redaksi lengkap yaitu

Satu bulan itu adalah dua puluh sembilan hari

Hitung bilangan satu bulan itu 30 hari

Perkataan Nabi ini menujukkan koherensi tujuan penjelasan dalam hadis ini adalah untuk menentukan jumlah hari bulan Ramadhan, sehingga fungsi hilal dipahami sebagai acuan untuk penentuan durasi waktu. Dalam hal ini durasi waktu berupa jumlah hari satu bulan kalender ditentukan agar sesuai dengan durasi siklus sinodik bulan dari hilal ke hilal. Fungsi hilal bukan sebagai penanda awal bulan.


Evaluasi 2 pemahaman terhadap fungsi hilal

Koherensi/konsistensi

Ketika bagian yang mengandung rukyah hilal dipahami sebagai penentuan awal bulan dengan hilal, 3 bagian hadis menjadi tidak koheren lagi. Bagian awal tertulis secara eksplisit bahwa Nabi hendak menentukan satu bulan itu 29 hari, lalu bagian tengah dipahami sebagai penentuan awal bulan, dan bagian akhir merupakan jumlah hari kembali.

Sedakan ketika bagian yang mengandung dua kali rukyah hilal dipahami sebagai penentuan jumlah hari bulan Ramadhan, 3 bagian hadis akan koheren/konsisten, semuanya mengarah pada penentuan jumlah hari satu bulan kalender (atau dalam konteks jumlah hari bulan Ramadhan)

Pemahaman Rasional dan Suprarasional

Penentuan awal bulan dengan hilal merupakan pemahaman yang bersifat suprarasional dan lokal. Diyakini sebagai ketetapan Nabi dari kalimat yang mengandung rukyah hilal ini. Tidak diturunkan secara rasional menggunakan akal manusia dari fenomena alamnya. Sedangkan penentuan jumlah hari satu bulan kalender, 29 hari atau 30 hari, bersifat rasional dan global, yang dapat dijelaskan dan ditentukan menggunakan sains dari siklus sinodik bulan.

Dengan demikian, ketika hilal dipahami sebagai penanda awal bulan, pemahamannya akan bercampur antara yang rasional dan suprarasional. Sedangkan, ketika dipahami sebagai pengajaran Nabi untuk menentukan jumlah hari bulan Ramadhan menggunakan dua kali rukyah hilal, dengan fungsi hilal sebagai alat bantu penentuan durasi waktu, semua bagian hadis akan menjadi pemahaman yang bersifat rasional, terjangkau oleh akal manusia.

Generalisasi pemahaman

Maksud generalisasi di sini adalah mengeluarkan satu pemahaman dari dua bagian hadis rukyah hilal. Ketika dipahami bagian yang mengandung dua kali rukyah hilal itu sebagai penentuan awal bulan dengan hilal, sedangkan bagian akhir yang mengandung perintah penggenapan jumlah hari satu bulan menjadi 30 hari merupakan penentuan jumlah hari satu bulan kalender, tidak mungkin digeneralisasi menjadi satu pemahaman saja berupa hilal sebagai tanda awal bulan.

Sedangkan ketika bagian yang mengandung dua kali rukyah hilal itu dipahami sebagai pengajaran Nabi untuk menentukan jumlah hari bulan Ramadhan menggunakan dua kali rukyah hilal, dengan fungsi hilal sebagai alat bantu penentuan durasi waktu, akan dapat diselaraskan dengan bagian akhir hadis, dengan generalisasi dikembalikan ke perkataan Nabi lagi yaitu

الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا» , ثُمَّ نَقَصَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِبْهَامَهُ , يَعْنِي تِسْعًا وَعِشْرِينَ ,

“Bulan itu (kadang-kadang) sekian dan sekian : “Yakni penjelasan dari rawi, sekali waktu 29 hari dan pada waktu yang lain 30 hari”. (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dengan tangannya)”. [Dikeluarkan oleh Imam Bukhari (2/230 dan lafadznya) dan Muslim (3/124) dll.]

Perhitungan yang diperlukan

Awal bulan kalender ditentukan oleh 2 hal yaitu awal siklus hari dan jumlah hari dalam satu bulannya. Bulatnya jumlah hari satu bulan kalender 29 atau 30 hari tepat terjadi pada akhir siklus hari. Penentuan awal bulan sebenarnya tidak diperlukan, karena akan mengikuti penetapan awal siklus hari.

Justru yang perlu ditentukan adalah jumlah hari satu bulan kalender, persis seperti perkataan Nabi dalam hadis rukyah hilal di atas, yang juga terdapat dalam hadis umat yang ummi yaitu satu bulan kalender itu kadang 29 hari kadang 30 hari, yang sangat cocok dengan struktur KHGT.

Semoga dapat direnungkan bersama, kalau yang disampaikan ini benar, datangnya dari Allah, mudah-mudahan dimudahkan untuk menerimanya. Sedangkan kalau pemahaman ini keliru, datangnya dari penulis sendiri, harap diabaikan saja.

Wallahu A’lam

  1. https://www.timeanddate.com/moon/phases/indonesia/jakarta
  2. https://nu.or.id/syariah/memahami-dalil-rukyat-hilal-melalui-bahasa-b1kqI
  3. Daftar Pustaka